Thursday, January 24, 2013

Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau mengulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria

Kini dengarkanlah
Dendangan lagu tanda ingatanku
Kepadamu teman
Agar ikatan ukhuwah kan
Bersimpul padu

Kenangan bersamamu
Takkan ku lupa
Walau badai datang melanda
Walau bercerai jasad dan nyawa

Mengapa kita ditemukan
Dan akhirnya kita dipisahkan
Munkinkah menguji kesetiaan
Kejujuran dan kemanisan iman
Tuhan berikan daku kekuatan

Mungkinkah kita terlupa
Tuhan ada janjinya
Bertemu berpisah kita
Ada rahmat dan kasihnya
Andai ini ujian
Terangilah kamar kesabaran
Pergilah derita hadirlah cahaya

BROTHERS-UNTUKMU TEMAN
……………………………………………..
18-23 Januari 2013
Jogja-jember-surabaya-jogja
Sungguh hari-hari yang tak akan pernah kulupa-dan aku berniat untuk itu. Hari-hari dimana aku akan menyesal jika aku tetap kekeuh berkata “tidak” waktu itu…………..

Sekitar 2 minggu sebelumnya…..
Kala itu, saya mendapatkan SMS dari ex kabid (ketua bidang) saya di tim JRMN (Jaringan Rohis Mipa Nasional) HASKA JMF (Himpunan Aktivitas Kajian Agama Jamaah Mushola Al-Furqon) FMIPA UNY. SMS itu berisikan tentang ajakan berkunjung ke UNEJ (Universitas Jember). Di SMS itu juga tertera biaya transportasi 270 ribu. Kontan, saya langsung menolak. Yah, memang saat ini saya sedang dalam rangka proses menghemat dan ada sesuatu yang ingin saya capai. Saya pun menyampaikan alasan saya menolak ajakan itu ke kabid saya. Walaupun tak bisa dipungkiri sebenarnya saya pengen juga kesana sih, tapi………………

Beberapa hari kemudian, SMS tentang ajakan itu kembali bertandang ke hape saya. Saya cuek saja bacanya. Saya memang sudah berniat tutup mata dan tutup telinga untuk ajakan ke Jember itu. Hemat yul, hemat yul, hemat. Begitu kira-kira kata hati saya. Sampai pada suatu siang saat saya berada di suatu mini market, tiba-tiba hape saya berdering: ada panggilan masuk. Dari siapa? Dari kabid saya. Sudah saya duga. Pasti mau ngomongin masalah itu. Lah bener kan.
Kabid  : jadi gimana yul? Mau ikut nggak? Mumpung liburan iniii
Saya    : saya kan sudah bilang enggak. Ongkosnya terlalu mahal.
Kabid  : udah murah ituuu
Saya    : tapi saya lagi berhemat
Kabid  : kalo gratis mau nggak?
Hah???
Saya    : ya kalo gratis mau lah
Kabid  : yaudah berarti kamu ikut ya
Saya    : loh kok? Ini beneran?
Kabid  : iya
Saya    : trus temen-temen yang lain gratis juga?
Kabid  : ya enggak lah, cuma kamu doang.
Saya    : hah????? Wah saya nggak enak lah kalo Cuma saya doang yang gratis. Trus yang mbeliin saya tiket siapa? 270 ribu kan nggak sedikit
Kabid  : besok naik kereta, 40 ribu. Jadi nggak mau? Yaudah, nanti saya carikan penggantinya
Saya    : eeeeeeeeeeeeeeeehhhhh……… iyaaaaaaaaaaaaaa mauuuuuuuuuuuuuuuuu
Seisi mini market langsung pada ngeliatin saya.

Tapi malamnya kebimbangan kembali menggelayuti saya. Ciyus nih saya mau ikut? Masalahnya, nggak enak ngerepotin teman-teman yang lain. Masak iya mereka urunan (baca: patungan) cuma buat mbeliin saya tiket. Memalukan sekali. Saya juga kan males-malesan pengen ikutnya. Nggak terlalu antusias banget kayak biasanya. Saya juga sudah ada rencana liburan di tempat lain. Nggak ikut juga nggak masalah, nggak bakalan mempengaruhi jalan hidup saya. Lagipula, kalo ada tiket gratis, kenapa harus saya yang jadi “korban”nya? Yang lain pasti banyak yang mau kan? Dan ternyata jawabannya seperti ini:
Anak-anak JRMN yang lain pada mudik. Cuma tinggal kamu yang enggak.
Ohhhhh, jadi ini status saya sebagai “yang tersisa” rupanya….
Sebenarnya yang dari UNEJ itu pengennya Fitri yang ikut, soalnya dia sodaranya Fitri.
Makin jleb lagi….
Saya    : Yaudah kenapa nggak mba Fitri aja?
Kabid  : Fitri nggak bisa. Lagipula kamu kan memang di undang.
Saya    : tapi kayaknya saya nggak jadi ikut aja deh.
Tak terduga, ternyata balasannya berbunyi:
Kamu itu nggak menghargai teman-teman yang sudah urunan buat beliin kamu tiket ya???!!!!!
Wadauuuuuwww
Dengan pasrah, saya menjawab:
Iya iyaa saya ikut.

……………………………………………………………………………………………………………………………………

Dan akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. TARAAAAAAAAAAAAAAAA
13 pejuang siap mbolang melakukan perjalanan ke timur. Kalo Kera Sakti journey to the west, kami journey to the east. So, kami dan kera sakti “beda”. Okay?
Sebenarnya awalnya ada 14 orang yang akan pergi ke Jember, tapi ternyata ada 1 orang yang batal ikut di sekitar 1 jam sebelum keberangkatan. Hmm yasudalah tak apa. Jadilah kami berangkat Jumat pagi ber-13. Eeeeeh, ber 11 ding, yang 2 nyusul berangkat sabtu soalnya jumat pagi beliau-beliau ini ada responsi. Wah ternyata missed komunikasi. Dikirain berangkat jumat sore. Padahal kan berangkatnya jumat pagi? Hahaaaa…. Aya-aya wae :D

Pagi itu kami ber-11 berkumpul di belakang masjid Mujahidin UNY. Dari UNY ber-10. Ikwan (baca: putra) ada 8, akhwat (baca: putri) ada 2. Dan ketambahan mba-mba UGM 1 orang. Ya bukan mba-mba juga sih, kami kan seangkatan. Tapi ya tak apa, daripada di panggil mas-mas hayo? wkwkwkwk

Kami pun meluncur ke stasiun Lempuyangan jogja. Karena yang putri cuma saya saja yang bawa motor, padahal ada 2 orang yang perlu diboncengin, jadinya harus balik 2 kali UNY-Lempuyangan.
Setelah mengantarkan mba Fitri, saya kembali lagi ke UNY untuk menjemput mba Reni (mba-mba UGM). Dalam perjalanan penjemputan itu, saya santai-santai saja di jalan. Menikmati indahnya pagi di kota Jogja teristimewa sebelum meningglkan jogja untuk beberapa hari. Hiks hiks hiks T_T
Nah, sesampainya di masjid Mujahidin, tinggal ada mba Reni doang.
Saya    : loh yang lain mana mba?
Reni    : udah pada berangkat mbaaaaaa (dengan ekspresi wajah gugup)
Saya    : iya po? Udah dari tadi?
Reni    : iyaaaa (makin gugup)
Saya    : lah emangnya ini jam berapa?
Reni    : jam 9 kurang tigaaaa
Saya    : beneran mba??? WAAAAAAAAA keretanya kan berangkat jam 9.15 wadoooooow
Masalah klasik. Selalu saja begini.
Gas pol. Di jalan benar-benar sudah nggak bisa konsentrasi lagi. Buyar. Rasanya kok nggak sampai-sampai di stasiun. Ditambah lagi mba Reni yang saya boncengin menambah kegugupan saya karena berteriak-teriak “ayo mba yuliiii fighting!!! Fighting!!!!!”---yang mungkin niatnya untuk menyemangati saya, tapi yang ada malah bikin saya tambah sesak nafas.

Fiuh. Akhirnya sampai juga di stasiun. Dan keretanya belom datang. Alhamdulillah yah J
Setelah sekitar 2 menit, Logawa, kereta yang kami tumpangi pun datang. Suaranya bergemuruh menggetarkan kaki kami yang berdiri di samping rel. Kami pun bersiap-siap naik kereta, mencari gerbong sesuai tiket masing-masing. Saat kami akan masuk gerbong, kami melakukan yaaah semacam presensi lah. Satu dua tiga… loh kok cuma ada 10 orang?????? Yang satu orang mana???????? Siapa yang belom ada disini?????
MAS FERIIIIIIIIIIIIIIII

Bersambung…………