Monday, April 4, 2011
KITA DAN MEREKA
Maret, April, Mei, Juni. Masa-masa yang sangat genting untuk kelas XII. Ga Cuma genting nyiapin UN, tapi juga genting nyiapin SNMPTN. Tapi ini juga udah lumayan. Seperti yang kita ketahui, tahun 2011 ini bisa dikatakan revolusi pendidikan karena sistematika masuk PTN/PTS di Indonesia berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Eh tapi sebenarnya sistematika UN juga beda ding. Kalo biasanya kan UN dulu baru USEK, tahun ini USEK dulu baru UN. Mungkin pengalaman bertahun-tahun lalu, siswa-siswi cenderung menyepelekan USEK dan menganggap UN jauh lebih penting. Tapi, dumeh UN udah kelar, apakah lantas kita boleh menduakan USEK? Kan jelas enggak toh. Tapi ini cuma teori. Kenyataannya di lapangan tak seperti itu. Ga sedikit siswa yang memelototi UN dan memandang sebelah mata USEK. Hmm, kasihan sekali ya si USEK di-anaktiri-kan. Oleh karena itu, pemerintah lebih mendahulukan USEK daripada UN. Selain [mungkin] karena bertujuan agar para murid tidak terlalu mendewa-dewakan UN dan membabukan USEK, juga bisa sebagai sarana latihan (semacam tryout) untuk persiapan UN. So, sebenarnya malah kita kan yang untung hihihihi :D
Nah yang mau saya suarakan disini adalah masalah SNMPTNnya. Tahun ini SNMPTN dibagi menjadi jalur undangan dan jalur tertulis. Yang jadi masalah adalah jalur undangannya. Masalah? Lah kok? Nggg, ya sebenarnya masalah ngga masalah sih. Ngga masalah kalo kita dapat menyikapinya secara bijak. Namun akan sangat berbeda manakala kita mulai menyalahgunakan “kepercayaan” yang diberikan untuk kita itu. Saking terbuainya dengan terpilihnya kita di jalur undangan dan membanjirnya program beasiswa, lantas banyak siswa yang apply ke berbagai universitas hanya dengan alasan coba-coba. Atau dengan alasan untuk jaga-jaga. Dan apabila mereka diterima, mereka bingung jadi mau di ambil ato tidak. Bahkan ada yang langsung menolaknya ketika ternyata dia diterima di universitas yang jauh lebih dia idam-idamkan. Kenapa? Sudah jelas karena alasan coba-coba/jaga-jaga tadi. Mereka juga asal milih jurusan. Kebanyakan dari mereka memilih universitas yang passing gradenya rendah agar persentase diterima besar karena takut tidak diterima walaupun tidak sreg dengan jurusan pilihan mereka sendiri itu. Mungkin ungkapan yang cocok adalah habis manis sepah dibuang. Sudah diterima, tetapi ketika sudah diterima dengan yang lebih baik, lantas membuang yang lama. Bisa dibayangkan, betapa sakit hatinya siswa-sisiwi yang lain yang disingkirkan dengan cara seperti itu. Secara tidak langsung, mereka yang seenaknya membuang rejeki tadi telah menggusur kesempatan temen-teman dibawahnya untuk mendapatkan pendidikan. Masak iya kita mau senang-senang di atas penderitaan mereka. Bagaimana rasanya jika yang tergusur adalah kita sendiri, coba?! Na’udzubillahimindzaalik deh :)
Memang sudah menjadi hak kita untuk memililh lebih dari 1 universitas, ribuan juga gapapa kalo mampu :D. Tapi apakah kita hanya memikirkan dari 1 sisi saja? Kita sudah SMA, jauh lebih dewasa. Tentunya kita juga harus memikirkan dari sisi yang lain. Kalo orang jawa mah bilangnya tepa salira. Peduli dengan yang lain. Kalo kita memang tidak berminat dengan jurusan yang kita pilih, kenapa harus apply?! Apakah hanya ingin menyandang status diterimanya kita di banyak universitas sehingga terdengar keren? Aduh ngga banget deh! Apalagi kalo cuma alasan jaga-jaga. Tapi beda lagi kasusnya kalo jaga-jaganya emang karena kita bener-bener niat banget sama tuh jurusan. Misal: kita apply FTI [teknik fisika] ITB dan teknik fisika UGM. Keduanya sama-sama jalur non-test. Kalo menurut saya pribadi, it’s okay. Toh sma-sama menjurus di pilihan kita, yaitu teknik fisika. Tapi gimana kalo gini kasusnya: kita apply teknik fisika UGM sama tata boga UNY. Keduanya juga sama-sama non-test. Sudah jelas kalo si X ini milih tata boga UNY karna alasan coba-coba. Dan kalo diterima teknik fisika UGM [misalnya sebelumnya sudah diterima di tata boga UNY], langsung deh tata boga UNY-nya ditendang. Astaghfirullah..
*ngelus dada
Tidak hanya tahun ini, tetapi tahun-tahun sebelumnya kasus seperti ini sudah marak. Tapi ya emang jauh lebih marak taun 2011 ini ding. Secara, sekarang kan ada jalur SNMPTN undangan juga. Khusnudzon saya, semoga mereka memang tidak kepikiran dan tidak menyadari akibat yang akan mereka timbulkan, mereka juga tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka tekah menghilangkan kesempatan untuk mereka yang ingin diterima di PTN/PTS impian mereka. Karenanya, saya dan mungkin banyak orang di luar sana yang ingin memperjuangkan pendidikan untuk mereka, menghimbau lewat tulisan ecek-ecek ini agar teman-teman lebih bijak dalam mengambil keputusan. Lebih peduli dengan pendidikan mereka. Coba kita bayangkan, kalo Anda melakukan hal ini, Anda bisa menyelamatkan 1 calon mahasiswa. Nah kalo Anda mengajak se-sekolah Anda, berapa banyak lagi yang terselamatkan. Apalagi kalo semua siswa Indonesia mau peduli, mungkin ribuan teman-teman kita dapat terselamatkan pendidikannya. Kita bisa tersenyum, mereka juga bisa lebih tersenyum. Kita bisa sama-sama tersenyum, dan bergandengan tangan menuju pendidikan yang lebih maju. Ayo kawan… aku, kamu, kita, mari selamatkan dunia dengan menyelamatkan pendidikan mereka!!! GANBATTE KUDASAI, sobat ^^
*PS: ini cuma opini dari seorang bocah ingusan, pelajar kelas XII SMA yang sebenarnya juga sedang belajar bagaimana menghargai dan peduli dengan orang lain. Acuhkan saja postingan ini kalo menurut Anda memang tidak, ato bahkan sangat-sangat tidak layak untuk diindahkan. Jangan menganggap ini sebagai sesuatu yang serius. Dan kalopun ada yang merasa tersakiti, tersindir, dsb, dengan kerendahan hati saya minta maaf. Saya tidak ada maksud untuk mencari musuh. Saya baru saja mendapat pencerahan dan saya hanya ingin berbagi untuk Anda semua, semoga bermanfaat ya :)
KALIAN MUTIARA JIWA KAMI
Masih lekat di benak saya. Bagaimana saat itu wajah-wajah ceria penuh semangat anak-anak di pengungsian “korban” dari keganasan Merapi. Minggu, 16 Januari 2011. Satu hari yang sangat singkat bersama mereka, bersama saudara-saudara yang kurang beruntung. Mereka bukan sedang dilanda bencana. Sama sekali bukan. Mereka hanya sedang ingin kumpul bersama. Untuk bertemu dengan kami, saudara-saudara yang tak akan pernah mereka temui jikalau bukan karena rencana “indah”-Nya ini :)
Well, kenapa saya bisa terjun kedalamnya, semua berawal dari liqo’. Tentunya kita semua tahu kalo erupsi Merapi beberapa bulan lalu cukup menyita perhatian kita, baik dunia nasional maupun internasional. Tidak terkecuali, kami, para anak ingusan jebolan mBantul pun mengelus dada merasa prihatin dengan keadaan mereka, saudara-saudara kami se-tanah DIY.
Jam 7 harusnya kami berangkat dari mBantul. Tapi karena jam karet yang sudah terlanjur nempel, jadilah kami berangkat sekitar jam 8an kurang. Hahahaha. Sampai Youth Center (tempat pengungsian) kira–kira jam 9. Status kami waktu itu adalah “relawan pendidikan”. Setelah konfirmasi ke bagian tamu, kami langsung menuju tenda putih tempat anak-anak “sekolah”. Kebanyakan dari mereka adalah usia SD. Dari mulai balita sampai kelas 6 SD, semua campur baur di dalam tenda putih itu. Tentu saja pelajarannya bukan seperti pelajaran biasanya. Melainkan lebih ke bermain sambil belajar. Selain sebagai sarana hiburan, sistem ini juga cocok dengan para penghuni tenda putih yang kebanyakan masih kanak-kanak. Masak iya usia balita diajarin matematika? Bisa-bisa mereka terkena mathphobia seumur hidup :D
Pertama kali liat wajah mereka… hemm, campur aduk: sedih, prihatin lihat wajah-wajah innocent ini yang terpaksa sudah harus merasakan pahitnya hidup. Tapi di sisi lain saya juga senang, terharu lihat semangat mereka yang tetap berkobar untuk terus belajar di keadaan seperti itu yang mungkin tak bisa orang lain lakukan, bahkan saya sendiri. Sempat ingin menitikkan air mata. Tapi ga tega juga lihat keceriaan di wajah mereka. Bahkan pas kami menuju tenda putih, segerombolan anak kecil yg unyu-unyu beud berebutan pengen salaman sama kami. Waduh! Mba-mba ini bukan artis loh dek. Malah jadi ngga enak sendiri waktu itu. Eh tapi lumayan juga, jadi artis sehari kikikik ^^
Sudah sekitar 3 hari adek-adek saya tercinta ini sekolah di tenda putih. Sebenere saya lupa itu hari keberapa. Tapi kayaknya sih hari keempat. Ternyata disana juga ada relawan-relawan pendidikan yang lain. Ada belasan lah. Jam pertama pagi menjelang siang kala itu diisi dengan origami. Setiap siswa dibagikan kertas lipat yang berwarna-warni. Mereka boleh membentuk kertas itu menjadi apa saja yang mereka inginkan, sesuai kreativitas dan imajinasi mereka. Kalo boleh jujur, awalnya waktu itu saya belom sarapan, jadi agak kurang cihui semangatnya. Tapi demi melihat semangat anak-anak unyu ini, saya jadi kesetrum semangat. Lah masak saya kalah semangat sama mereka yang kondisinya sedang tidak seberuntung saya?! Tentu saja ini tak bisa dibiarkan! Hehehehe
Jam kedua diisi dengan kegiatan outdoor. Semua anak dikelompokkan menjadi beberapa tim. Tiap tim berisi sekitar 10 anak dengan 3 pendamping (relawan pendidikan). Kemudian tiap tim ini diberi kebebasan mau melakukan apa sesuai dengan kebijakan pendamping. Ada yang bercerita tentang asal usul Danau Toba, ular tangga, permainan konsentrasi, dll. Semuanya terlihat sangat menikmati kegiatan ini. Teriknya sang mentari pun seakan tak mampu mengganggu kebersamaan kami.
Disana, ada seseorang yang sangat spesial bagi saya. Laki-laki. Eits, jangan negatif thinking dulu. Laki-lakinya masih bocah kok, kira-kira unur 4 tahun :P. Di saat anak-anak yang lain mengelompok sesuai dengan timnya, adek yang satu ini malah ada di gendongan ibunya. Kemudian dengan agak malu-malu, ibu dan anak ini mendekati saya yang sedang mendampingi salah satu tim dan si ibu berkata, “mba, ada buku nggak? Anak saya ini dari tadi nangis minta mulu…” agak kaget juga saya. Yang lain sibuk bermain, kok yang ini malah pengen belajar. Meski masih agak heran, saya coba carikan juga kertas untuk sang ibu. Tapi saya nyari kemana-mana ga ada ternyata. Lha wong tas saya isinya ga ada alat tulis je. Hehehe. Cuma ada kertas lipat warna-warni sisa origami tadi pagi. “aduh bu, maaf. Tinggal ini. Gimana bu?”
“oh ya gapapa mba.” Kata ibu itu tersenyum lega
“tapi mba, saya boleh minta bolpen atau pensil tidak? Anak saya ini seneng banget sama yang namanya nulis.” Si ibu melanjutkan. Waduh, padahal saya kan ga bawa alat tulis. Tapi lagi-lagi lihat sinar semangat bocah ini, akhirnya saya usahakan juga. Setelah keliling-keliling, akhirnya dapet juga. Meski cuma spidol. Alhamdulillah si ibu dengan senang hati mau menerima dan berlalu dari hadapan saya setelah mengucapkan banyak matur nuwun. Dari kejauhan, saya sempat melirik adek kecil itu yang dengan semangat, gembira, dan cerianya mulai meliuk-liukkan penanya di atas kertas berwarna tadi. Subhanallah. Sayang sekali waktu itu saya ga sempet kenalan. Saking terseponanya sih :D
Setelah sholat dhuhur dan makan siang, berakhirlah kegiatan belajar mengajar hari itu. Satu hari yang sangat singkat, namun sarat akan makna. Makna kebersamaan, persaudaraan, semangat, keceriaan, dan hal-hal indah lainnya. Saya yang harusnya memberi semangat untuk mereka, justru mereka yang memberi semangat untuk saya. Saya yang harusnya mengajarkan mereka arti sebuah persaudaraan, justru mereka yang mengajarkannya untuk saya. However, saya sangat beruntung diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk sedikit mencicipi kebersamaan dengan mereka, adek-adek yang penuh keceriaan hidup di dada. Sungguh, tak akan pernah ku lupakan jasa-jasa mereka. Jasa-jasa yang membuat saya untuk selalu bersyukur, pantang putus asa, dan selalu semangat. Youth Center, saksi mati akan kuatnya persaudaraan kami. Persaudaraan antara adik dan kakak. Terima kasih adik-adik ku sayang… hanya itu, segelas air yang bisa kami berikan untuk kalian, tapi kalian membalasnya dengan memberikan air seluas samudra… semoga kita dipertemukan kembali. Kalopun tidak difananya dunia ini, mba harap kita dipertemukan di surga-Nya kelak. Amin yaa Rabb. Adek-adek ku tercinta, kalian mutiara jiwa kami:)
*foto2nya nyusul ya :D
Subscribe to:
Comments (Atom)