Masih lekat di benak saya. Bagaimana saat itu wajah-wajah ceria penuh semangat anak-anak di pengungsian “korban” dari keganasan Merapi. Minggu, 16 Januari 2011. Satu hari yang sangat singkat bersama mereka, bersama saudara-saudara yang kurang beruntung. Mereka bukan sedang dilanda bencana. Sama sekali bukan. Mereka hanya sedang ingin kumpul bersama. Untuk bertemu dengan kami, saudara-saudara yang tak akan pernah mereka temui jikalau bukan karena rencana “indah”-Nya ini :)
Well, kenapa saya bisa terjun kedalamnya, semua berawal dari liqo’. Tentunya kita semua tahu kalo erupsi Merapi beberapa bulan lalu cukup menyita perhatian kita, baik dunia nasional maupun internasional. Tidak terkecuali, kami, para anak ingusan jebolan mBantul pun mengelus dada merasa prihatin dengan keadaan mereka, saudara-saudara kami se-tanah DIY.
Jam 7 harusnya kami berangkat dari mBantul. Tapi karena jam karet yang sudah terlanjur nempel, jadilah kami berangkat sekitar jam 8an kurang. Hahahaha. Sampai Youth Center (tempat pengungsian) kira–kira jam 9. Status kami waktu itu adalah “relawan pendidikan”. Setelah konfirmasi ke bagian tamu, kami langsung menuju tenda putih tempat anak-anak “sekolah”. Kebanyakan dari mereka adalah usia SD. Dari mulai balita sampai kelas 6 SD, semua campur baur di dalam tenda putih itu. Tentu saja pelajarannya bukan seperti pelajaran biasanya. Melainkan lebih ke bermain sambil belajar. Selain sebagai sarana hiburan, sistem ini juga cocok dengan para penghuni tenda putih yang kebanyakan masih kanak-kanak. Masak iya usia balita diajarin matematika? Bisa-bisa mereka terkena mathphobia seumur hidup :D
Pertama kali liat wajah mereka… hemm, campur aduk: sedih, prihatin lihat wajah-wajah innocent ini yang terpaksa sudah harus merasakan pahitnya hidup. Tapi di sisi lain saya juga senang, terharu lihat semangat mereka yang tetap berkobar untuk terus belajar di keadaan seperti itu yang mungkin tak bisa orang lain lakukan, bahkan saya sendiri. Sempat ingin menitikkan air mata. Tapi ga tega juga lihat keceriaan di wajah mereka. Bahkan pas kami menuju tenda putih, segerombolan anak kecil yg unyu-unyu beud berebutan pengen salaman sama kami. Waduh! Mba-mba ini bukan artis loh dek. Malah jadi ngga enak sendiri waktu itu. Eh tapi lumayan juga, jadi artis sehari kikikik ^^
Sudah sekitar 3 hari adek-adek saya tercinta ini sekolah di tenda putih. Sebenere saya lupa itu hari keberapa. Tapi kayaknya sih hari keempat. Ternyata disana juga ada relawan-relawan pendidikan yang lain. Ada belasan lah. Jam pertama pagi menjelang siang kala itu diisi dengan origami. Setiap siswa dibagikan kertas lipat yang berwarna-warni. Mereka boleh membentuk kertas itu menjadi apa saja yang mereka inginkan, sesuai kreativitas dan imajinasi mereka. Kalo boleh jujur, awalnya waktu itu saya belom sarapan, jadi agak kurang cihui semangatnya. Tapi demi melihat semangat anak-anak unyu ini, saya jadi kesetrum semangat. Lah masak saya kalah semangat sama mereka yang kondisinya sedang tidak seberuntung saya?! Tentu saja ini tak bisa dibiarkan! Hehehehe
Jam kedua diisi dengan kegiatan outdoor. Semua anak dikelompokkan menjadi beberapa tim. Tiap tim berisi sekitar 10 anak dengan 3 pendamping (relawan pendidikan). Kemudian tiap tim ini diberi kebebasan mau melakukan apa sesuai dengan kebijakan pendamping. Ada yang bercerita tentang asal usul Danau Toba, ular tangga, permainan konsentrasi, dll. Semuanya terlihat sangat menikmati kegiatan ini. Teriknya sang mentari pun seakan tak mampu mengganggu kebersamaan kami.
Disana, ada seseorang yang sangat spesial bagi saya. Laki-laki. Eits, jangan negatif thinking dulu. Laki-lakinya masih bocah kok, kira-kira unur 4 tahun :P. Di saat anak-anak yang lain mengelompok sesuai dengan timnya, adek yang satu ini malah ada di gendongan ibunya. Kemudian dengan agak malu-malu, ibu dan anak ini mendekati saya yang sedang mendampingi salah satu tim dan si ibu berkata, “mba, ada buku nggak? Anak saya ini dari tadi nangis minta mulu…” agak kaget juga saya. Yang lain sibuk bermain, kok yang ini malah pengen belajar. Meski masih agak heran, saya coba carikan juga kertas untuk sang ibu. Tapi saya nyari kemana-mana ga ada ternyata. Lha wong tas saya isinya ga ada alat tulis je. Hehehe. Cuma ada kertas lipat warna-warni sisa origami tadi pagi. “aduh bu, maaf. Tinggal ini. Gimana bu?”
“oh ya gapapa mba.” Kata ibu itu tersenyum lega
“tapi mba, saya boleh minta bolpen atau pensil tidak? Anak saya ini seneng banget sama yang namanya nulis.” Si ibu melanjutkan. Waduh, padahal saya kan ga bawa alat tulis. Tapi lagi-lagi lihat sinar semangat bocah ini, akhirnya saya usahakan juga. Setelah keliling-keliling, akhirnya dapet juga. Meski cuma spidol. Alhamdulillah si ibu dengan senang hati mau menerima dan berlalu dari hadapan saya setelah mengucapkan banyak matur nuwun. Dari kejauhan, saya sempat melirik adek kecil itu yang dengan semangat, gembira, dan cerianya mulai meliuk-liukkan penanya di atas kertas berwarna tadi. Subhanallah. Sayang sekali waktu itu saya ga sempet kenalan. Saking terseponanya sih :D
Setelah sholat dhuhur dan makan siang, berakhirlah kegiatan belajar mengajar hari itu. Satu hari yang sangat singkat, namun sarat akan makna. Makna kebersamaan, persaudaraan, semangat, keceriaan, dan hal-hal indah lainnya. Saya yang harusnya memberi semangat untuk mereka, justru mereka yang memberi semangat untuk saya. Saya yang harusnya mengajarkan mereka arti sebuah persaudaraan, justru mereka yang mengajarkannya untuk saya. However, saya sangat beruntung diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk sedikit mencicipi kebersamaan dengan mereka, adek-adek yang penuh keceriaan hidup di dada. Sungguh, tak akan pernah ku lupakan jasa-jasa mereka. Jasa-jasa yang membuat saya untuk selalu bersyukur, pantang putus asa, dan selalu semangat. Youth Center, saksi mati akan kuatnya persaudaraan kami. Persaudaraan antara adik dan kakak. Terima kasih adik-adik ku sayang… hanya itu, segelas air yang bisa kami berikan untuk kalian, tapi kalian membalasnya dengan memberikan air seluas samudra… semoga kita dipertemukan kembali. Kalopun tidak difananya dunia ini, mba harap kita dipertemukan di surga-Nya kelak. Amin yaa Rabb. Adek-adek ku tercinta, kalian mutiara jiwa kami:)
*foto2nya nyusul ya :D
No comments:
Post a Comment